Favor & Impact – Ps. Kus Jayanto

Tidak semua orang yang mendapat posisi besar menyadari untuk apa posisi itu diberikan. Ester pun mungkin tidak pernah membayangkan bahwa mahkota di kepalanya suatu hari akan menjadi bagian dari keselamatan bangsanya.

Ester bukan sekadar seorang perempuan yang kemudian menjadi ratu. Di balik kehidupannya, ada tangan Tuhan yang bekerja melalui keadaan yang tidak selalu mudah dipahami.

Esther 5:2 “Ketika raja melihat Ester, sang ratu, berdiri di pelataran, berkenanlah raja kepadanya, sehingga raja mengulurkan tongkat emas yang di tangannya ke arah Ester, lalu mendekatlah Ester dan menyentuh ujung tongkat itu.”

Tetapi, apakah favor hanya berarti mendapatkan sesuatu yang baik untuk diri sendiri?

Chapter 1. Favor

Kasih karunia (Favor/Grace) adalah pemberian Allah yang melampaui usaha manusia.

Ester 5:2 menggambarkan sebuah momen yang menentukan. Ester berdiri di pelataran raja, padahal ia datang tanpa dipanggil. Dalam situasi tersebut, raja dapat saja menolaknya. Namun, ketika melihat Ester, raja berkenan kepadanya dan mengulurkan tongkat emas.

Di situlah kita melihat arti favor: ketika Tuhan memberikan perkenanan dan membuka jalan yang sebelumnya tidak dapat dibuka oleh kekuatan manusia sendiri.

Hal yang sama juga terlihat dalam kisah Nuh. Kejadian 6:8 “Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.” mencatat bahwa Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan. Favor bukan sesuatu yang membuat hidup seseorang bebas dari tantangan. Sebaliknya, perkenanan Tuhan dapat membawa seseorang masuk ke dalam sebuah panggilan yang lebih besar.

Ester mengalami hal yang sama. Ia tidak hanya memperoleh mahkota. Ia memperoleh sebuah posisi yang kelak memiliki tujuan jauh lebih besar daripada dirinya sendiri.


Chapter 2. Queen Esther

Perjalanan hidup Ester menggambarkan bagaimana favor Tuhan sanggup mengubah takdir dan mengangkat kehidupan seseorang.

Sebelum dikenal sebagai Ratu Ester, ia adalah Hadasa. Ia kehilangan ayah dan ibunya, lalu Mordekhai mengangkatnya sebagai anak. Kisah hidupnya tidak dimulai dari sebuah istana, tetapi dari kehilangan. Namun, keadaan masa lalu tidak menjadi akhir dari ceritanya.

Ester kemudian mendapat kasih dan perkenanan raja lebih daripada perempuan-perempuan lainnya. Raja mengenakan mahkota kerajaan kepadanya dan mengangkatnya menjadi ratu menggantikan Wasti.

Ester 2:17 “Maka Ester dikasihi oleh baginda lebih dari pada semua perempuan lain, dan ia beroleh sayang dan kasih baginda lebih dari pada semua anak dara lain, sehingga baginda mengenakan mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan mengangkat dia menjadi ratu ganti Wasti.” 

Posisi itu mungkin terlihat seperti sebuah keberuntungan. Tetapi ketika cerita terus berjalan, kita menemukan bahwa Tuhan sedang menempatkan Ester tepat di tempat yang dibutuhkan.

Kadang kita baru memahami alasan Tuhan menempatkan kita di suatu tempat setelah kita melihat apa yang terjadi melalui tempat tersebut.

Ester tidak menjadi ratu hanya untuk memiliki mahkota. Ada bangsa yang akan membutuhkan keberaniannya.

Chapter 3. Mordekhai Vs Haman

Menjadi ratu ternyata bukan hanya tentang hidup nyaman di dalam istana. Ada saat ketika posisi tersebut menuntut Ester mengambil risiko.

Mordekhai pernah menggagalkan rencana pembunuhan terhadap Raja Ahasyweros. Namun, ketika Mordekhai menolak berlutut kepada Haman, Haman merasa dipermalukan. Kemarahannya tidak berhenti pada Mordekhai. Ia merencanakan pemusnahan seluruh bangsa Yahudi di kerajaan Ahasyweros.

Ester 3:6 mencatat, “Tetapi ia menganggap dirinya terlalu hina untuk membunuh hanya Mordekhai saja… Jadi Haman mencari ikhtiar memusnahkan semua orang Yahudi, yakni bangsa Mordekhai itu, di seluruh kerajaan Ahasyweros.”

Di titik ini, konflik Haman dan Mordekhai berubah menjadi ancaman langsung bagi Ester dan bangsanya. Ester tidak bisa lagi hanya berdiri sebagai ratu di dalam istana. Ia harus berhadapan dengan keputusan Haman dan mempertaruhkan posisinya sendiri.

Ester meminta orang-orang Yahudi di Susan berpuasa. Setelah itu, ia mengenakan pakaian kebesarannya dan menghadap raja, meskipun tindakan tersebut dapat membahayakan dirinya.

Favor yang Ester terima kini menuntut keberanian untuk menghasilkan impact.

Chapter 4. Dampak Ester dan Mordekhai Menghasilkan Sukacita dan Perayaan

Kasih karunia (Favor) yang diterima oleh Ester dan Mordekhai tidak berhenti pada diri mereka sendiri, melainkan berdampak (Impact) bagi keselamatan seluruh bangsa:

  1. Melahirkan Sukacita dan Hari Raya Purim:

Keberanian Ester menghadap raja dan pertolongan Tuhan mengubah ratap tangis menjadi perayaan besar yang dikenal sebagai Hari Raya Purim.

Ester 8:17 “Demikian juga di tiap-tiap daerah dan di tiap-tiap kota… ada sukacita dan kegirangan di antara orang Yahudi, dan perjamuan serta hari gembira…” 

Ester 9:19 “Oleh sebab itu orang Yahudi yang di pedusunan… merayakan hari yang keempat belas bulan Adar itu sebagai hari sukacita dan hari perjamuan, dan sebagai hari gembira untuk antar-mengantar makanan.”

  1. Allah Membalikkan Keadaan:

Apapun rancangan jahat yang dibuat musuh, Allah sanggup membaliknya menjadi kebaikan.

Kejadian 50:20 “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” 

Roma 8:28 “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Sama seperti Ratu Ester yang mendekat dan menyentuh ujung tongkat emas raja ketika ia memperoleh perkenanan, kita pun diundang untuk datang kepada Tuhan:

Ibrani 4:16 “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”

Ketika kita menerima Favor (kasih karunia) dari Tuhan, kehidupan kita dipanggil untuk menghasilkan Impact (dampak) positif bagi orang-orang di sekitar kita dan membawa kemuliaan bagi nama Tuhan.

Leave a Reply