Integrity in the Dark – Ps. DR. Rita Wahyu
Dunia marketplace hari ini telah berubah pesat. Teknologi memungkinkan kita menjalankan bisnis dan pekerjaan dari mana saja, bahkan dari balik dinding rumah tanpa perlu bertatap muka langsung. Namun, fleksibilitas ini membawa tantangan tersendiri: munculnya banyak dark places, ruang-ruang tersembunyi yang memberi celah bagi kita untuk berbuat curang atau kompromi tanpa diketahui orang lain.
Amsal 11:3 mengingatkan “Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya.”
Kejujuran sejati bukan sekadar soal berbuat baik di hadapan publik, melainkan tentang memiliki ketulusan hati saat tidak ada siapapun yang melihat. Kecurangan mungkin memberi keuntungan instan, tetapi pada akhirnya akan menjadi jebakan yang merusak masa depan.
Da Lifnei Mi Atah Omed:
Untuk menjaga integritas di tempat gelap, kita perlu memahami dua konsep utama dari iman Kristen dan tradisi Ibrani: Da, Lifnei Mi Atah Omed, artinya: “Ketahuilah di hadapan SIAPA engkau berdiri.”
Banyak orang bekerja giat hanya karena dipantau oleh pengawasan atasan atau CCTV. Begitu pengawasan hilang, integritasnya ikut kendur. Namun, bagi orang percaya, mata Tuhan adalah pengawasan 24 jam yang tidak pernah mati. Integritas bukan tentang siapa manusia yang melihat kita, melainkan siapa diri kita di hadapan Tuhan.
Konsep Avodah: Pekerjaan adalah Ibadah
Dalam bahasa Ibrani, kata Avodah (עֲבוֹדָה) memiliki tiga arti sekaligus:
-
Work (Pekerjaan)
-
Service (Pelayanan)
-
Worship (Ibadah)
Iman Kristen tidak mengenal pemisahan antara pekerjaan “sekuler” dan “rohani”. Apapun profesi kita baik pengusaha, dokter, notaris, maupun staf kantor, semua pekerjaan yang dilakukan dengan integritas adalah bentuk ibadah dan pelayanan kepada Tuhan. Tempat kerja kita adalah ladang kesaksian hidup yang nyata.
Belajar dari Hidup Yusuf: Dari Sumur hingga Istana
Kisah Yusuf mengambil porsi hampir 30% dari Kitab Kejadian (Pasal 37–50). Perjalanan hidupnya menggambarkan bagaimana karakter dibentuk dan diuji melalui berbagai fase:
A. Menolak Kompromi di Tempat Tersembunyi
Saat menjadi budak di rumah Potifar, Yusuf digoda oleh istri Potifar dalam keadaan rumah yang sepi. Meski tidak ada orang lain yang melihat, Yusuf menolak dengan tegas:
“Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berdosa terhadap Allah?” (Kejadian 39:9)
Bahkan ketika fitnah membawanya ke dalam penjara, penyertaan Tuhan (Adonai Ito) tetap nyata karena Yusuf menjaga integritasnya.
B. Menjauhi “Kuasa Gendong Lali”
Setelah melewati ujian penjara, Yusuf diangkat menjadi Mishneh LaMelekh (penguasa kedua) di Mesir. Dalam posisi puncak ini, Yusuf tidak jatuh ke dalam jebakan “kuasa gendong lali” istilah bagi orang yang lupa diri dan takabur saat memegang kekuasaan. Yusuf tidak merebut hak Firaun atau memperkaya diri, melainkan menggunakan hikmatnya (Khokhmah) untuk mengelola strategi ekonomi yang menyelamatkan banyak bangsa dari kelaparan 7 tahun.
C. “Human Evil, But God”
Di akhir hidupnya, Yusuf tidak membalas dendam kepada abang-abangnya yang pernah menjualnya. Dalam Kejadian 50:20, ia menyatakan kedewasaan imannya: manusia bisa merancangkan yang jahat (human evil), tetapi Allah mengubahnya menjadi kebaikan (but God) untuk memelihara kehidupan suatu bangsa yang besar.
Memaknai Krisis dan Melakukan Kebajikan Tertinggi
A. Memandang Krisis sebagai Mas’ber dan Wei Ji
Dunia kerja sering kali diwarnai oleh krisis ekonomi. Namun, iman mengajarkan kita untuk tidak meratapi krisis:
-
Perspektif Ibrani (Mas’ber): Kata krisis (Mas’ber) berarti “kursi bersalin”. Walau prosesnya menyakitkan, krisis bertujuan melahirkan kehidupan baru dan pendewasaan karakter.
-
Perspektif Mandarin (Wēi Jī): Krisis terdiri dari Wēi (bahaya) dan Jī (kesempatan). Di dalam setiap tantangan, selalu ada peluang bagi orang yang dipimpin oleh hikmat Tuhan.
B. Emunah dan Bentuk Sedekah Tertinggi
Kata iman dalam bahasa Ibrani adalah Emunah, yang seakar dengan kata Amanah. Memiliki iman berarti mampu memegang amanah.
Salah satu wujud nyata dari Emunah di dunia kerja adalah melakukan kebajikan/sedekah tertinggi. Menurut pemikiran Ibrani, sedekah tertinggi bukanlah sekadar memberi bantuan sembako yang habis dalam beberapa hari, melainkan menyokong sesama SEBELUM mereka jatuh miskin, yaitu melalui:
-
Pendidikan: Membantu biaya pendidikan anak-anak agar mereka mandiri di masa depan.
-
Menyediakan Lapangan Kerja: Ketika pengusaha mempekerjakan karyawan dan memberi gaji yang layak, ia sedang menopang martabat manusia dan kehidupan keluarga mereka.
Di mana pun Tuhan menempatkan kita saat ini, baik di sumur penderitaan, di tempat kerja sebagai pegawai, maupun di posisi puncak sebagai penguasa/pemilik bisnis integritas kita harus tetap teguh. Pasar bisa berubah, kondisi ekonomi bisa bergejolak, tetapi karakter anak Tuhan tidak boleh ikut berubah.