Called To Influence – Ps. Daniel Hendrata

Jika kita menghitung waktu dalam seminggu, keberadaan kita di gedung gereja sebenarnya sangat terbatas, mungkin hanya satu kali seminggu, sekitar dua hingga tiga jam saja. Hal ini menyadarkan kita bahwa porsi kehidupan terbesar seorang Kristen justru berada di luar gedung gereja.  

Pertanyaannya, dimanakah dominasi waktu kita dihabiskan? Jawabannya adalah di marketplace.  Secara harfiah, marketplace adalah realitas sehari-hari tempat kita bekerja, menjalankan bisnis, dan membangun relasi.

Di tempat kerja atau arena bisnis, kita tidak hanya bertransaksi, tetapi juga merajut persahabatan yang mendalam. Diskusi mengenai bisnis mungkin hanya berlangsung selama 30 hingga 45 menit. Namun, dari perjumpaan yang konsisten, kita sering kali mulai berbagi kehidupan.  Melalui interaksi tersebut, kita tidak hanya belajar dari orang-orang sukses tentang cara mengelola usaha atau menjadi saluran berkat. Lebih dari itu, marketplace memberikan kita kesempatan untuk mendoakan rekan bisnis, supplier, atau nasabah bahkan mereka yang belum mengenal Tuhan.

Yesus sendiri pernah mengingatkan murid-murid-Nya dalam Matius 10:16-20

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Tetapi waspadalah terhadap semua orang… Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga.”

Untuk berdampak di tengah dunia kerja yang kompetitif, ada tiga pilar panggilan yang perlu kita miliki:

1. I Am Called to Influence

Pengaruh bukanlah sekadar konsep manajemen modern, melainkan desain orisinal yang Tuhan tetapkan sejak awal penciptaan. Dalam Kejadian 1:28, Tuhan memberikan mandat agar manusia beranak cucu, memenuhi bumi, menaklukkan, dan berkuasa.

Istilah “menaklukkan” atau kolonisasi Kerajaan Surga (colonize) sering kali terdengar negatif karena sejarah kelam penjajahan di Indonesia. Namun, kolonisasi Kerajaan Allah tidak pernah menggunakan kekerasan, melainkan menegakkan nilai-nilai firman Tuhan di tengah dunia.

Masalah terbesar banyak orang Kristen saat ini adalah kenaifan. Kita sering kali berpikir bahwa setelah bertobat, Tuhan otomatis menyingkirkan semua “serigala” di tempat kerja. Padahal, Yesus menegaskan bahwa Dia justru mengutus kita ke tengah-tengah serigala.

Serigala adalah predator yang buas, oportunis, dan selalu berburu secara berkelompok memakai taktik. Sebaliknya, domba tidak memiliki senjata tajam. Supaya domba bisa bertahan hidup (survive), ada dua hal krusial yang harus dilakukan:

  1. Melekat pada Gembala Agung: Domba dapat bertahan bukan karena kekuatannya sendiri, melainkan karena kebergantungannya yang mutlak kepada Yesus Kristus, Sang Gembala.
  2. Tertanam dalam Komunitas (Komsel): Serigala selalu mengincar domba yang menyendiri. Oleh karena itu, kita butuh kelompok sel (Komsel) agar memiliki komunitas yang saling mendukung, mendengarkan, dan menguatkan.

Jika Anda tidak dipanggil menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu di gedung gereja, maka marketplace adalah ladang pelayanan Anda. Mengabaikan dunia kerja hanya akan membuat arena tersebut dikuasai penuh oleh orang-orang yang tidak takut Tuhan.

Membawa pengaruh tidak harus dengan cara yang rumit. Setelah selesai bertransaksi bisnis, cobalah tanyakan kabar rekan kerja atau klien Anda secara tulus: “Bagaimana kabar Bapak/Ibu? Ada pergumulan yang sedang dihadapi?”

Sederhana sekali, tawarkan diri untuk mendengarkan beban mereka dan berdoa bersama. Langkah kecil ini sudah merupakan bentuk nyata dari membawa pengaruh Kerajaan Surga di dunia kerja.

2. I Am Wise: Cerdik dan Tulus

Agar tidak menjadi korban di marketplace, Yesus meminta kita menjadi cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Urutannya jelas: cerdik dulu, baru tulus. Tanpa kecerdikan, ketulusan kita hanya akan dimanfaatkan oleh orang lain. 

Esensi Cerdik dan Tulus

  • Cerdik seperti Ular: Mampu membaca situasi tanpa memanipulasi orang lain. Tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam, tidak asal percaya, berpakaian rapi sesuai identitas anak Tuhan (tanpa perlu flexing), serta memilih menghindari konflik konyol.
  • Tulus seperti Merpati: Memiliki hati yang murni, jujur, dan tidak berniat jahat. Tulus bukan berarti bodoh; kita tetap wajib memiliki batasan diri (boundaries) yang sehat agar tidak dijadikan “tong sampah” atau dimanfaatkan orang lain.

Menjadi The Wise Leader

  • Hanya seperti Ular: Menjadi pribadi yang jahat, manipulatif, dan egois.
  • Hanya seperti Merpati: Menjadi pribadi yang naif dan mudah dieksploitasi.
  • Kombinasi Sempurna: Membentuk sosok wise leader yang awas terhadap kejahatan, namun tetap memegang teguh integritas Kerajaan Surga.

Aplikasi Nyata di Tempat Kerja

  1. Menolak Manipulasi: Berani menolak perintah curang (seperti memanipulasi laporan keuangan) demi mempertahankan integritas iman dan menghindari risiko hukum.
  2. Kompetisi yang Sehat: Boleh memanfaatkan peluang dari kesalahan kompetitor, tetapi tidak berniat jahat untuk membangkrutkan atau menghancurkan mereka.
  3. Negosiasi & Konflik: Tetap tenang tanpa taktik kotor, serta bijak merespons serangan reputasi, tahu kapan harus mengklarifikasi dan kapan harus mengabaikan fitnah.

3. I Am Courageous

Pilar ketiga yang harus dimiliki anak Tuhan di marketplace adalah keberanian. Tuhan tidak pernah menghendaki kita hidup dalam ketakutan. Alkitab bahkan berulang kali mengingatkan, “Do not fear” (Jangan takut). Ketakutan alami memang normal untuk membuat kita tetap waspada, tetapi kita tidak boleh membiarkan rasa takut mengendalikan keputusan hidup kita. 

Keberanian Bukan Kenaifan (Tetap Berhitung dan Berhikmat)

Berani tidak sama dengan impulsif, nekat, atau asal bertindak tanpa perhitungan. Keberanian orang percaya dibangun di atas hikmat:

  • Menguji Setiap Peluang: Sebelum mengambil keputusan besar atau berinvestasi, pelajari datanya, bertanya kepada orang berpengalaman, serta bawa dalam doa dan puasa.
  • Waspada Terhadap Tekanan Psikologis (FOMO): Hati-hati dengan taktik jualan atau penawaran yang memaksa Anda harus mengambil keputusan instan hari itu juga. Jika dikondisikan secara terburu-buru, lebih baik tunda atau lepaskan. Percayalah, jika itu memang berkat dari Tuhan, keberanian terbaik justru lahir saat kita berani menolak transaksi yang membuat hati kecil kehilangan damai sejahtera.
  • Aturan Menunda Satu Hari (Take a Pause): Untuk keputusan penting yang krusial, beranilah minta waktu menunda satu hari. Gunakan waktu tersebut untuk berdiam diri, berdoa, dan menenangkan pikiran.
Pentingnya Kesepakatan dengan Pasangan

Keberanian yang berhikmat melibatkan kesepakatan dalam keluarga. Dalam mengambil keputusan bisnis atau investasi besar, seorang suami harus duduk bersama istrinya, membeberkan fakta secara jujur, dan berdoa bersama.

  • Jika pasangan belum merasa sepakat atau tidak memiliki kedamaian, lebih baik tunda atau mundur.
  • Lebih baik kehilangan satu peluang bisnis daripada mendapatkan keuntungan miliaran rupiah tetapi rumah tangga dipenuhi perselisihan. Pasangan juga harus peduli tentang bagaimana uang itu didapatkan, bukan sekadar menuntut hasil tanpa peduli kejujuran prosesnya.
Walk by Faith, Not by Sight

Di dunia bisnis yang penuh ketidakpastian, seringkali kita dihadapkan pada situasi tanpa data yang lengkap. Di titik inilah kita belajar berjalan karena iman, bukan karena apa yang terlihat (2 Korintus 5:7).

  • Mendengarkan Suara Roh Kudus: Kita tidak harus tahu atau memegang kendali atas segala hal. Di saat rumit, berdoalah meminta bimbingan Roh Kudus: “Tuhan, beri saya satu kata saja (just one word).” Arahan Tuhan baik itu “ya”, “tidak”, atau “tunggu”, sudah lebih dari cukup.
  • Kuasa di Balik Kelemahan: Anda mungkin merasa paling lemah, paling tidak berpengalaman, atau menjadi kelompok minoritas di lingkungan kerja. Namun ingatlah 1 Yohanes 4:4, bahwa Roh yang ada di dalam diri kita jauh lebih besar daripada roh apa pun yang ada di dunia. Seperti Daud yang dianggap remeh saat melawan Goliat, keberanian Daud tidak datang dari senjata, melainkan dari keyakinan penuh akan nama Tuhan.
Memegang EndGame: Kristus Telah Mengalahkan Dunia

Tuhan Yesus menutup pengajaran-Nya dalam Yohanes 16:33 dengan janji kemenangan: “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”

Pada akhirnya (end game), kemenangan sudah berada di tangan Kristus. Dunia mungkin mengandalkan koneksi, gelar akademik, atau kekuatan modal. Namun, anak-anak Tuhan menaruh kepercayaan tertinggi kepada Yesus. Damai sejahtera yang diberikan Tuhan tidak bisa dibeli oleh dunia, dan itulah sumber keberanian sejati kita untuk berdiri teguh di marketplace.

Sebagai penutup, mari kita ingat bahwa keberadaan kita di marketplace bukan untuk menaklukkan atau menguasai orang lain secara egois. Sebaliknya, kita hadir di sana untuk merepresentasikan Kristus melalui integritas, karakter, dan kejujuran.

Leave a Reply