Trusting God in Uncertain Times – Ps. Kus Jayanto
Di tengah ketidakpastian dunia saat ini, entah itu urusan karir, keuangan, maupun masa depan rasanya sangat mudah bagi kita untuk terjebak dalam rasa cemas. Kita sering kali berusaha keras memegang kendali atas segala hal, mencoba menata jalan kita sendiri sampai akhirnya kita menyadari bahwa kapasitas manusia sungguh terbatas.
Chapter 1: Trust in the LORD
Kunci utama dalam menghadapi masa-masa yang tidak pasti berakar dari pesan klasik dalam Amsal 3:5–6.
Amsal 3:5-6 (TB) “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”
Kita dipanggil untuk percaya kepada TUHAN dengan segenap hati dan berhenti bersandar pada pengertian kita sendiri. Ketika kita mengakui Dia dalam setiap langkah hidup kita, Dialah yang akan meluruskan dan meratakan jalan kita di tengah rintangan
Kisah hidup Yusuf menjadi bukti nyata dari prinsip ini. Meski ia melewati pengkhianatan, ketidakadilan, dan berbagai musim yang kelam, Yusuf tetap memegang kendali Allah atas hidupnya. Seperti yang ia katakan dalam Kejadian 50:20, apa yang mereka-rekakan jahat terhadap dirinya, justru Allah reka-rekakan untuk kebaikan guna memelihara suatu bangsa yang besar.
“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” – Kejadian 50:20 (TB)
Bahkan ketika skenario dunia tampak buruk, Roma 8:28 menegaskan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.
Janji Penyertaan & Ketenangan dari Tuhan
- Jangan Takut:
Yesaya 41:10 (TB) “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” - Atasi Kekhawatiran dengan Doa:
Filipi 4:6-7 (TB) “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” - Pencukupan & Kesetiaan Allah:
Ibrani 13:5 (TB) “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.'”
Chapter 2: Manusia Baru (The New Self)
Untuk mengarungi ketidakpastian, kita dipanggil untuk meninggalkan kehidupan lama dan mengenakan identitas baru di dalam Kristus.
Dalam Efesus 4:22–24, kita dipanggil untuk menanggalkan “manusia lama” yang dibinasakan oleh nafsu menyesatkan, serta mengenakan “manusia baru” yang diciptakan menurut kehendak Allah dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.
Efesus 4:22-24 (TB) “Yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.”
Chapter 3: Shalom (Damai Sejahtera)
Ketidakpastian sering kali merusak kedamaian hati kita. Kita melihat bagaimana saudara-saudara Yusuf kehilangan kedamaian (shalom) dan membencinya hanya karena rasa iri.
Kata Shalom (שָׁלוֹם) dalam bahasa Ibrani bukan sekadar ketiadaan konflik, melainkan mencakup keutuhan, keselamatan, kesejahteraan, keamanan, dan kemakmuran yang berasal dari Allah. Dialah Adonai Shalom (TUHAN Damai Sejahtera – Hakim-hakim 6:24) dan Sar Shalom (Raja Damai – Yesaya 9:6).
Melalui karya pengorbanan Yesus di kayu salib, pemulihan shalom terbesar telah terjadi. Dalam Kolose 2:13–14, dijelaskan bahwa hutang pelanggaran dan tuntutan hukum yang mendakwa kita telah dihapuskan dan dipakukan pada kayu salib
Kolose 2:13-14 (TB) “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib.”
Ketika Yesus menyerukan “It is Finished!” (Nishlam – Yohanes 19:30), seluruh surat hutang dosa kita telah dilunasi sepenuhnya