Time to be Faithful – Ps. Kus Jayanto

Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari dimensi waktu. Namun, sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk tidak sekadar melewatkan hari, melainkan hidup dengan kesadaran penuh akan rencana Allah.  

Di dalam Markus 1:15, Tuhan Yesus dengan tegas mendeklarasikan:”Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”  

Melalui pesan ini, kita akan mendalami tiga tahapan penting yang membawa kita pada pemahaman rohani yang utuh mengenai waktu dan kesetiaan.  

Chapter 1: Time (Memahami Dimensi Waktu)

Untuk bisa setia, kita harus terlebih dahulu mengerti bagaimana cara Allah bekerja di dalam waktu. Alkitab menggunakan tiga istilah bahasa Yunani yang berbeda untuk menjelaskan dimensi waktu dalam hidup kita:  

Chronos (χρόνος) – Waktu yang Terukur: Waktu yang berurutan, linier, dan bergerak maju dalam hitungan detik, menit, jam, hari, dan tahun. Ini adalah waktu yang kita lihat di jam dinding dan kalender. 

Kairos (καιρός) – Waktu Tuhan (Momen yang Tepat): Momen atau kesempatan penting yang telah ditentukan oleh Allah. Dimensi ini tidak diukur dari durasinya, melainkan oleh tujuan dan dampaknya. Kairos bertanya: “Apakah ini waktu yang tepat untuk bertindak?”  

Aion (αἰών) – Kekekalan (Eternity): Sebuah zaman, era, atau periode waktu yang tidak terbatas. Aion melampaui waktu bumi, bergerak dari generasi ke generasi di dalam rencana kekal Allah.

Chapter 2: Why We Have To Be Faithful? 

Setelah memahami bahwa hidup kita berada dalam rancangan waktu-Nya, mengapa kesetiaan menjadi hal yang mutlak dan tidak bisa ditawar?  

Yesus Kristus adalah Tuhan (Yeshua is Adonai): Tujuan akhir dari sejarah alam semesta adalah ketundukan mutlak kepada Kristus. Filipi 2:11 menyatakan bahwa segala lidah akan mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Bapa.  Sumpah Setia yang Kekal: Hal ini meneguhkan nubuatan dalam Yesaya 45:22-23, di mana Allah bersumpah demi diri-Nya sendiri bahwa setiap lutut akan bertelut dan setiap lidah akan bersumpah setia kepada-Nya. Kesetiaan kita hari ini adalah bentuk pengakuan nyata bahwa Ia adalah Pemimpin tertinggi hidup kita.  

Chapter 3: Tetaplah Setia (Bertahan dalam Proses)

Tantangan terbesar kita adalah menjaga kesetiaan ketika berada di dalam masa-masa penantian atau ujian (Chronos). Bagaimana kita bisa tetap setia?  Memahami Disiplin Tuhan: Seringkali Tuhan mengizinkan proses yang menekan rohani kita. Namun, Mazmur 119:75 mengingatkan: “Aku tahu, ya TUHAN, bahwa hukum-hukum-Mu adil, dan bahwa Engkau telah menindas aku dalam kesetiaan.” Tuhan mendisiplin kita demi kebaikan kita, agar kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya (Ibrani 12:10).  

Belajar dari Kisah Hosea dan Gomer: Tuhan memerintahkan Hosea untuk mengawini perempuan sundal sebagai gambaran betapa tidak setianya manusia (Hosea 1:2). Namun di tengah pengkhianatan itu, Tuhan berkata di Hosea 6:6: “Sebab Aku menyukai kasih setia, bukan korban sembelihan; dan pengenalan akan Allah, lebih daripada korban-korban bakaran.” Kesetiaan lahir dari pengenalan yang intim dengan Tuhan, seperti hubungan Kristus dan jemaat-Nya (Efesus 5:32).  

Leave a Reply