Money Reveals the Heart – Ps. Debby Catharina
Keuangan Bermuara dari Hati
Bagaimana kita mengelola keuangan sebenarnya menunjukkan kondisi spiritual kita yang sesungguhnya. Keputusan finansial tidak pernah sekadar mengenai angka, melainkan bermuara langsung dari isi hati manusia.
Sering kali, perilaku seperti membeli barang mewah secara impulsif atau memaksakan diri mengambil pinjaman online (pinjol) demi pembuktian diri berakar dari luka masa lalu dan keinginan untuk mengesankan sesama. Namun, sebagai pengelola (steward) atas apa yang Tuhan percayakan, kita dipanggil untuk mengelola finansial secara bijak: menabung, berbelanja sesuai kebutuhan, dan hidup berfokus hanya untuk menyenangkan Tuhan.
1. Kumpulkan Harta di Sorga
Matius 6:19-21 “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada”
Dalam Matius 6:19-21, Yesus mengingatkan agar kita tidak memfokuskan hidup untuk mengumpulkan harta di bumi yang dapat rusak oleh ngengat dan karat, atau dicuri oleh pencuri. Sebaliknya, kita dipanggil untuk mengumpulkan harta di sorga yang kekal.
Mengubah fokus dari hal yang sementara menuju hal yang kekal dilakukan melalui:
- Menggunakan talenta yang Tuhan berikan untuk kemuliaan-Nya.
- Melakukan perbuatan baik dan berbagi.
- Memberi kepada yang miskin.
- Menaati firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
- Setia dan bertahan dalam kesesakan.
Ingatlah janji Tuhan dalam Matius 10:42 bahwa pengorbanan sekecil apapun, bahkan sekadar memberikan secangkir air sejuk kepada murid-Nya tidak akan pernah kehilangan upahnya di mata Tuhan.
2. Di Mana Hartamu Berada?
Harta adalah sesuatu yang paling kita hargai, yang pada akhirnya menentukan arah pikiran dan kendali emosi kita. Harta tidak selalu berwujud uang atau materi, kedamaian dan kerukunan dalam rumah tangga juga merupakan harta yang sangat berharga.
Kisah pemuda kaya dalam Matius 19:16-22 menjadi pengingat bagi kita. Pemuda tersebut sangat religius dan telah menaati berbagai perintah agama sejak muda. Namun, ketika Yesus memintanya menjual seluruh miliknya dan mengikut-Nya, ia pergi dengan sedih karena hartanya sangat banyak.
Hatinya ternyata terikat pada kekayaannya. Jangan sampai kepemilikan materi membuat kita sulit menaati perintah Kristus. Bekerjalah dengan jujur dan sekuat tenaga, serta hindari menggunakan kemiskinan untuk memanipulasi orang lain seolah-olah mereka berhutang kepada kita.
3. Rendahkan Hatimu
Mengenai kemustahilan unta masuk ke dalam lubang jarum di Matius 19:23-26, teori populer sering mengklaim adanya pintu gerbang kecil di Yerusalem bernama “lubang jarum”. Namun, bukti arkeologis tidak pernah menemukan keberadaan gerbang tersebut.
Yesus sengaja menggunakan hiperbola atau gambaran kemustahilan ekstrem untuk menyampaikan pesan utama: keselamatan tidak mungkin dicapai oleh kemampuan atau kekayaan manusia. Kekayaan materi sering membuat seseorang terancam “buta” akan kemiskinan rohaninya karena merasa segala sesuatu bisa diselesaikan dengan uang. Solusinya bukan mengandalkan usaha manusia, melainkan merendahkan hati untuk menerima kasih karunia Allah. Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.
4. Apa Hartamu yang Paling Berharga?
Jika ditanya apa harta paling berharga, kita mungkin akan menjawab: Keluarga, Keselamatan, atau Kesehatan. Namun, apakah jadwal keseharian kita sudah mencerminkan prioritas tersebut?
Sering kali terjadi benturan realitas sehari-hari:
- Panggilan pelayanan gereja VS bisnis/toko yang tidak mungkin ditutup.
- Jadwal komunitas sel (Komsel) dan ibadah VS lembur akhir pekan demi mempertahankan jabatan dan proyek besar.
Setiap keputusan mengenai alokasi waktu adalah keputusan tentang di mana hati dan harta kita berada. Bagi Anda yang terus-menerus lembur, kurang tidur, dan tidak pernah beristirahat di akhir pekan, ingatlah perintah Tuhan dalam Keluaran 20:8 untuk menguduskan hari Sabat. Istirahatlah dan jagalah diri Anda; jangan menunggu sampai tubuh sakit baru menyadari bahwa kesehatan adalah harta yang sangat berharga dari Tuhan.
Sebab di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Mari periksa kembali hati kita hari ini: apakah kita sedang membangun kerajaan sendiri di bumi, atau sedang mengumpulkan harta yang kekal di sorga?