Communication Gives Life – Ps. Debby Catharina
Dalam kehidupan, komunikasi merupakan hal yang sangat penting, terutama dalam membangun dan mempertahankan relasi. Baik dalam pertemanan, persahabatan, pernikahan, hubungan suami-istri, orang tua dan anak, maupun hubungan antar saudara.
Secara sederhana, komunikasi adalah proses penyampaian pesan atau informasi dari satu pihak kepada pihak lain melalui berbagai media, baik lisan maupun visual, dengan tujuan agar pesan tersebut dapat dipahami dan menghasilkan kesamaan makna.
- Manfaat Komunikasi
Amsal 16:24 (TB) “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.”
Perkataan yang menyenangkan membawa kehidupan. Kata-kata yang baik dapat menyembuhkan luka emosi, memulihkan hati yang terluka, bahkan memberi kekuatan bagi mereka yang sedang menghadapi pergumulan.
Komunikasi juga berperan penting dalam menyelesaikan masalah. Ketika masalah hanya dipendam dan tidak dibicarakan, kesalahpahaman akan semakin besar. Sebaliknya, ketika ada komunikasi yang terbuka, akan muncul jalan keluar yang membawa pemulihan.
Melalui komunikasi yang sehat, tercipta saling pengertian (mutual understanding) dan rasa percaya (trust) dalam sebuah hubungan.
- Hentikan Komunikasi Negatif
Komunikasi yang negatif dapat muncul melalui kata-kata kotor, sumpah serapah, perkataan yang merendahkan, atau ucapan yang menyakiti anggota keluarga dan orang-orang di sekitar kita.
Efesus 4:29 (TB) “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.”
Firman Tuhan mengingatkan bahwa setiap perkataan yang kita ucapkan harus dipertanggungjawabkan.
Matius 12:36-37 (TB) “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.”
Istilah “kata sia-sia” berasal dari bahasa Greek, rhema argos, yang berarti perkataan yang tidak berguna, diucapkan secara ceroboh, tanpa dipikirkan dengan baik, serta tidak membangun orang lain maupun memuliakan Tuhan.
Karena itu, kita perlu berhati-hati terhadap perkataan yang bersifat merusak (destructive), seperti gosip, rumor, fitnah, atau tuduhan yang merusak reputasi seseorang tanpa alasan yang jelas.
- Terapkan Komunikasi Asertif
Yakobus 1:19-21 (TB) “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah…”
Prinsip “cepat mendengar, lambat berbicara, dan lambat marah” merupakan dasar dari komunikasi asertif.
Komunikasi asertif adalah cara menyampaikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan secara jujur serta tegas, namun tetap menghormati hak dan perasaan orang lain.
Gaya komunikasi ini merupakan jalan tengah yang seimbang antara komunikasi pasif, yang selalu mengalah, dan komunikasi agresif, yang cenderung memaksakan kehendak.
Komunikasi asertif berbeda dengan komunikasi ofensif maupun defensif
Jika selama ini komunikasi dalam keluarga lebih banyak diwarnai oleh sikap ofensif maupun defensif, sudah saatnya berubah. Belajarlah menerapkan komunikasi asertif: berani menyampaikan sudut pandang dengan jujur, namun tetap terbuka untuk mendengarkan sudut pandang orang lain. Dengan demikian, pesan dapat tersampaikan dan diterima dengan baik.
- Apapun Masalahnya, Bisa Dikomunikasikan
Masalah yang dikomunikasikan dengan baik akan lebih mudah ditemukan jalan keluarnya.
Matius 18:15 (TB) “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.”
Firman Tuhan mengajarkan agar teguran disampaikan secara pribadi terlebih dahulu. Prinsip ini berlaku dalam hubungan suami-istri, orang tua dan anak, antar saudara, sesama jemaat, teman, maupun dalam lingkungan pekerjaan.
Hindari menegur seseorang di depan umum atau mengumbar kesalahannya kepada banyak orang. Tindakan tersebut dapat menimbulkan rasa malu, sakit hati, bahkan luka yang sulit dipulihkan.
Sebaliknya, bicarakan masalah dengan baik, dalam suasana yang tenang, dengan kepala dingin dan hati yang terbuka. Walaupun pembicaraan tersebut mungkin sulit dilakukan, komunikasi yang sehat akan membawa kelegaan, pemulihan, dan damai sejahtera bagi semua pihak yang terlibat.