Time for Discipleship – Ps. Daniel Hendrata

Matius 28:19-20 “”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”

Apa itu Pemuridan?

Pemuridan adalah sebuah journey (perjalanan) di mana kita dengan sengaja memimpin seseorang untuk semakin mengenal dan menjadi serupa dengan Kristus. Di dalam gereja, harus ada kata “saling”, saling membantu, menghargai, mendorong, mengangkat, mendoakan, dan mengingatkan. Melalui interaksi aktif inilah pemuridan terjadi.

Perjalanan pemuridan ini memiliki 3 titik penting:

  • Titik 1 (Lembah) – Menemukan Mereka yang Jauh dari Tuhan
  • Titik 2 (Pendakian Bersama) – Berjalan Bersama dalam Hubungan (Proximity)
  • Titik 3 (Puncak) – Membantu Mereka Menjadi Serupa dengan Yesus

“May You Be Covered with the Dust of Your Rabbi”

Ada satu istilah Yahudi kuno yang sangat mendalam: “May you be covered with the dust of your rabbi” (Biarlah kamu tertutup oleh debu-debu kaki rabi-mu).

Belajar metode pemuridan Yesus bukan berarti kita harus berpakaian atau berjalan kaki seperti orang zaman dulu tanpa naik mobil atau pesawat. Belajar dari Yesus artinya belajar dari semangat kedekatan (proximity). Di zaman-Nya, Yesus hidup berdekatan dengan 12 murid-Nya sepanjang minggu. Sama halnya di gereja, kita tidak mau kedekatan kita hanya sekadar formalitas hari Minggu. Kita mau ada hubungan nyata di mana kita saling mengenal dan diperhatikan melalui komunitas sel (Komsel).

Kenapa Kita Harus Dimuridkan?

  1. Amanat Agung

Seperti yang sudah dibahas, Matius 28 adalah perintah tegas, bukan saran. Bahkan, selama 40 hari setelah kebangkitan-Nya sebelum naik ke surga, Yesus terus menekankan pengajaran-Nya untuk memastikan para murid tahu apa yang menjadi isi hati-Nya. Pengajaran-Nya sangat sederhana: dekat dengan-Nya, ingat pengajaran-Nya, dan baca firman. Metode sederhana ini telah teruji oleh waktu selama ribuan tahun.

  1. Yesus Hanya Punya Plan A Yesus 

Di dunia bisnis atau pendidikan sekuler, kita selalu diajarkan untuk memiliki backup plan (rencana cadangan). Memiliki tabungan atau persiapan tentu penting, tetapi untuk keselamatan jiwa manusia, Yesus tidak memiliki plan B. Satu-satunya strategi utama Yesus adalah pemuridan.

Yesus tidak membangun universitas megah atau kerajaan politik, tetapi Ia membangun manusianya. Menariknya, Yesus tidak merekrut para CEO terkemuka atau orang-orang dengan IQ jenius dan IPK 4,0. Ia justru memilih 12 orang biasa, yang mayoritas tidak terpelajar (seperti nelayan). Ini membuktikan bahwa tidak peduli latar belakang kita terpelajar atau tidak, punya bisnis besar atau belum punya apa-apa, kita semua adalah kandidat terbaik untuk menjadi murid Yesus dan memuridkan orang lain.

  1. Disciple or Die!

Tanpa pemuridan, akan ada kematian. Bukan kematian secara jasmani, melainkan kematian dan kebangkrutan secara moral. Jika kita berhenti memuridkan, generasi di bawah kita akan menjadi generasi yang menggunakan cara berpikir dunia, pesimistis, hampa, dan hidup tanpa rasa takut akan Tuhan yang berujung pada penghakiman.

 

Alkitab mencatat tragedi ketiadaan pemuridan ini sebagai “The Joshua Syndrome” (Sindrom Yosua) di dalam Hakim-Hakim 2:10 “Setelah seluruh angkatan itu dikumpulkan kepada nenek moyangnya, bangkitlah sesudah mereka itu angkatan yang lain, yang tidak mengenal TUHAN ataupun perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel.”

Musa memuridkan Yosua. Namun setelah generasi Yosua dan Kaleb selesai (game over), mereka gagal memuridkan angkatan berikutnya. Akibatnya, bangkitlah generasi baru yang tidak mengenal Tuhan dan tidak tahu apa yang Tuhan telah perbuat. Generasi masa kini mungkin memiliki IQ yang jauh lebih tinggi dan teknologi yang hebat, tetapi IQ tinggi tidak menjamin spiritualitas yang benar. Anak-anak bisa saja kita drill untuk menghafal kode ayat Alkitab, tetapi mereka tetap butuh dibimbing secara pribadi agar tahu bagaimana cara mengalami Tuhan dan mendengar suara-Nya saat hati mereka hancur.

Mari kita renungkan bahwa dalam perjalanan mengikut Tuhan, ada dua sisi iman yang harus berjalan seimbang:

Keselamatan (Salvation): Ini adalah bagian yang kita terima secara instan dan utuh sepenuhnya gratis, murni karena Kasih Karunia dan Anugerah salib Kristus.

Keserupaan dengan Kristus (Christlikeness): Berbeda dengan keselamatan, keserupaan dengan karakter Kristus tidak terjadi secara otomatis. Sisi ini menuntut kemauan, pilihan, dan komitmen harian kita untuk berjalan bersama orang lain (tidak sendirian) serta memiliki rasa lapar yang terus-menerus untuk belajar mengikuti metode Sang Guru.

Waktunya sudah tiba. It’s time. Jangan biarkan generasi ini mati rohani karena keegoisan kita. Jadilah murid yang sejati, dan mulailah menghasilkan murid bagi kemuliaan nama-Nya!

 

Leave a Reply