Ps. Kus Jayanto “Penginjilan Tanpa Kata”
Bacaan : Kejadian 8:22
“Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.”
Selama bumi masih ada, takkan henti-hentinya musim menabur dan menuai (harvest), dingin dan panas, kemarau dan hujan siang dan malam hal itu akan terjadi terus menerus. Ini adalah kejadian setelah air bah, di mana Tuhan mengatakan bahwa Tuhan tidak akan menghukum lagi dengan air bah dan selama bumi ini masih ada takkan henti-hentinya musim itu berganti musim.
Sebagai manusia kita bahkan tidak bisa mengerti cuaca apa yang akan terjadi pada hari itu. Begitupun sebaliknya, mungkin sebagai orang Kristen, kadang kita sulit mengerti musim apa yang sedang kita alami dalam kehidupan ini, tetapi yang paling penting kita harus tetap mempersiapkan diri kita.
Apa yang akan timbul di benak kita terkait PENGINJILAN? Kabar baik atau Kabar buruk?
Jika kita lihat dari bahasa aslinya, penginjilan berasal dari kata “εὐαγγέλιον” atau kabar baik. Kabar baik tersebut merupakan Injil Kerajaan Allah, bahwa kita adalah manusia berdosa dan Tuhan sudah mati bagi kita menebus dosa kita kita menjadi manusia yang baru. Kita mau memberitahukan bahwa saat kita berada dalam dosa, hanya Tuhanlah yang menolong kita dan menyelamatkan kita dari maut.
Bacaan : 1 Yohanes 3:18
“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.”
Ayat ini menegaskan bahwa kasih kita tidak boleh hanya berupa teori atau ucapan semata. Karena yang penting bukan sekedar kata-kata, tetapi bukti nyata. Jadi, sebagai orang percaya, kita harus mengasihi dengan tindakan yang sesuai dengan kebenaran, bukan hanya sekedar berbicara.
1. FIRMAN
Yohanes 1:1-2 “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.
Firman Tuhan atau “Dafar” dalam bahasa Ibrani, memiliki arti yang lebih luas dari sekadar “kata”. Dafar merujuk pada segala sesuatu yang dinyatakan dan diwahyukan oleh Tuhan, termasuk perbuatan-Nya dan karya-Nya. Alkitab, dari Kejadian sampai Wahyu, merupakan keseluruhan Firman Tuhan – dafar-Nya – yang menyatakan karya agung Tuhan dan rencana keselamatan melalui Tuhan Yesus Kristus. Para penulis Alkitab Perjanjian Lama sering tidak sepenuhnya memahami apa yang mereka tulis, namun mereka taat menulis apa yang Roh Kudus ilhamkan kepada mereka. Kita dapat bersyukur kepada bangsa Yahudi yang setia sebagai para penulis dan yang menjaga dan meneruskan Firman Tuhan hingga hari ini.
Bahkan ada simbol-simbol yang menunjuk pada penderitaan Kristus yang disalibkan, meskipun para penulis saat itu belum sepenuhnya memahami maknanya. Namun, melalui Firman Tuhan yang utuh, kita dapat melihat bahwa Alkitab secara keseluruhan menyatakan kebenaran dan rencana keselamatan Tuhan yang sempurna. Jadi, Alkitab bukan sekadar buku, melainkan Firman Tuhan yang memberikan kita wahyu tentang siapa Tuhan dan bagaimana Dia bekerja dalam sejarah hingga menyediakan keselamatan melalui Tuhan Yesus Kristus. Alkitab adalah firman Tuhan 100% yang perlu kita renungkan, pelajari, dan taati.
Firman Tuhan yang dinyatakan dalam Alkitab dan perkataan Tuhan Yesus merupakan kebenaran yang pasti terlaksana. Oleh karena itu, kita perlu mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali, seperti kita mempersiapkan musim yang akan datang dengan menanam dan menuai pada waktunya. Ada musim menabur, musim meneteskan air mata, dan musim menuai. Kita harus tetap setia mengikut Tuhan dalam setiap musim yang kita alami. Penting sekali sebagai orang Kristen kita mempersiapkan diri untuk menerima berkat Tuhan, agar berkat tersebut dapat menjadi berkat dan bukan kutuk bagi kita. Firman Tuhan tidak pernah mustahil, meskipun terkadang hal-hal yang tampak mustahil bagi manusia dapat terjadi ketika Tuhan campur tangan. Penting bagi kita untuk menyesuaikan kehidupan kita dengan firman Tuhan, agar perkataan dan perbuatan kita sejalan. Tuhan kita adalah Allah yang setia, yang tidak pernah berbohong, dan kita harus tunduk pada firman-Nya. Hanya dengan cara ini, kita dapat dipakai Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain.
2. TERANG
Konsep “terang” dalam Alkitab tidak hanya merujuk pada terang fisik seperti matahari atau lampu, melainkan juga ada makna rohani yang lebih mendalam. Dalam kitab Kejadian 1:3-4 diceritakan bahwa sebelum diciptakannya matahari dan benda-benda langit lainnya, Tuhan menciptakan terang terlebih dahulu. Ini menunjukkan adanya suatu terang yang berasal dari Tuhan sendiri, yang kemudian dipisahkan-Nya dari kegelapan.
Jadi intinya, “terang” di sini bukan hanya bersifat fisik, melainkan mengacu pada suatu realitas spiritual – suatu pencerahan, kebajikan, dan kehadiran ilahi yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan kita sebagai orang beriman.
Dalam Kejadian 1:3-4, Alkitab mencatat bahwa ketika Tuhan menciptakan terang, Tuhan melihat bahwa terang itu baik. Kata “baik” dalam bahasa Ibrani memiliki arti “cantik” atau “indah”. Jadi, terang yang diciptakan Tuhan itu tidak hanya baik, tetapi juga cantik atau indah.
Ketika Musa lahir, di rumah orang tuanya terdapat terang yang datang dari Tuhan, bukan hanya lampu atau matahari. Terang ini dianggap cantik dan baik, karena sebelumnya telah dinubuatkan bahwa akan ada seorang penyelamat Israel yang akan lahir. Kelahiran Musa dengan ditemani terang ini menunjukkan bahwa Musa adalah orang yang istimewa. Peristiwa terang yang menyertai kelahiran juga terjadi dalam kisah kelahiran Yesus. Ketika Yesus lahir, bintang yang disebut sebagai “Bintang Timur” memimpin orang-orang bijak untuk menemukan Yesus. Terang ini menunjukkan bahwa kelahiran Yesus juga merupakan peristiwa yang luar biasa.
3. GARAM
Dalam Matius 5:13, Yesus mengatakan bahwa kita adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, tidak ada gunanya lagi selain dibuang dan diinjak orang. Ini menggambarkan bagaimana kita sebagai orang percaya harus menjadi “garam” di dunia ini. Kita harus memberikan dampak positif dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita. Seperti halnya garam di masakan, kita harus mampu “menggarami” kehidupan orang lain agar mereka menjadi lebih baik. Jika kita tidak mampu melakukan hal itu, maka kita dianggap tidak berguna, bahkan dapat menyusahkan orang lain. Kita harus bertanggung jawab atas diri kita sendiri dan tidak membuat hidup orang lain menjadi sulit.
Garam dalam konteks Alkitab melambangkan nilai diri kita sebagai manusia. Ketika Tuhan menyuruh kita untuk menjadi “garam dunia”, itu berarti Dia ingin kita memiliki pengaruh dan memberikan dampak positif bagi lingkungan di sekitar kita. Sama seperti garam yang memberi rasa dan menjaga makanan agar tidak membusuk, kita sebagai orang percaya dipanggil untuk menjadi “garam” bagi dunia ini.
Selain itu, gaji atau upah yang kita peroleh dari pekerjaan kita juga berakar dari konsep “garam”. Pada zaman dahulu, garam merupakan barang yang sangat berharga dan bahkan digunakan sebagai alat pembayaran. Oleh karena itu, istilah “salarium” (yang berarti gaji) berasal dari kata “salarium” yang merujuk pada pemberian garam kepada para pekerja Romawi kuno.
Ketika kita menerima gaji atau upah, Tuhan ingin kita menggunakannya dengan bijak, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi juga untuk melayani dan menjadi berkat bagi orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa kita dipanggil untuk menjadi “garam” – memberi rasa, menjaga, dan memberkati lingkungan di sekitar kita.
4. EPILOG
Wahyu 2:4 “Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.”
Ayat tersebut mengingatkan kita pentingnya mempertahankan “cinta mula-mula” dalam kehidupan beriman. Seperti dalam pernikahan, di mana pasangan suami-istri harus selalu mengingat perasaan cinta pada awal perkenalan, demikian juga dalam hubungan kita dengan Tuhan. Seringkali, seiring berjalannya waktu, semangat awal dalam menjalin hubungan dengan Tuhan dapat meredup. Namun, kita harus menekankan bahwa kita harus terus memelihara dan membangun kembali “cinta mula-mula” tersebut.
Kita dipanggil untuk memberitakan Injil dan hidup sesuai dengan firman Tuhan. Hal ini akan membuat kita menjadi terang dan garam dunia. Kita harus hidup setia kepada Tuhan, bukan hanya untuk sementara waktu, tetapi selamanya. Kesetiaan ini harus menjadi bagian erat dari kehidupan kita.
Mari kita terus berjalan bersama-sama dalam iman dan kasih kepada Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus Memberkati.