Saya memilih tema ini, satu tema yang menurut saya adalah apa yang paling pantas kita perjuangkan selama hidup salah satunya yang utama adalah keluarga kita, dan juga perkawinan kita. Banyak orang ingin mempertahankan dan memenangkan keluarganya tapi tidak punya skill tidak punya knowledge, tidak punya kemampuan Bagaimana membuat keluarga lebih baik dan lebih sehat?

Di tahun menjelang 2015, anak saya dipulangkan oleh pihak sekolahnya untuk di minta libur kira kira 2 minggu dengan alasan anak bungsu kami mengalami depresi berat, dan sekolah mewajibkan kami membawanya ke psikiater. Ini kabar buruk bagi saya karena meski saya seorang konselor dan sudah biasa membawa anak ke psikolog, saya belum pernah membawanya ke psikiater. Sebagai konselor, kami membawa anak bungsu kami ke psikiater senior kami di Semarang. Karena kami tinggal di Salatiga dan saya mengalami depresi. Perawatan membutuhkan 6 bulan, dan anak kami pulih cukup untuk ujian SMA pada 2015 meski hampir tidak lulus.

Pindah dari Gading Serpong (550 km) ke Salatiga adalah keputusan besar. Saya jarang bisa ke kantor dan kehilangan pendapatan sekitar 600-700 juta per tahun karena membatalkan undangan dan pelatihan. Saya memilih kehilangan uang daripada kehilangan anak dan kesehatan mental saya, yang sangat buruk saat itu, termasuk iman dan semangat berdoa.

Saya telah melewati perjalanan yang penuh tantangan dengan anak saya yang awalnya atheis. Setelah tiga hingga empat tahun, anak saya menerima Kristus pada Januari 2016, dan usaha saya membuahkan hasil dengan memperbaiki hubungan keluarga.

Sebagai konselor, saya sering menangani masalah kesehatan mental dan keluarga, dan menekankan pentingnya dukungan profesional. Komunitas konselor juga berperan penting dalam membantu pasangan dan keluarga, seperti ibu Wastuti yang belajar di lembaga yang saya  pimpin. Secara keseluruhan, perjalanan saya menunjukkan bahwa ketahanan, dukungan profesional, dan cinta dapat memperbaiki relasi dan memulihkan keharmonisan keluarga. Dalam perjalanan kami memimpin lembaga konseling LK3, kami membantu banyak pasangan untuk mempertahankan perkawinan mereka.

  • Salah satunya adalah Ibu Astuti, yang belajar di lembaga kami, menghadapi tantangan besar ketika suaminya yang meninggalkannya selama 23 tahun kembali dalam keadaan sakit. Meski anak-anaknya marah, Ibu astuti memilih untuk merawatnya. Setelah dua tahun, suaminya pulih, dan hubungan mereka membaik. Ibu astuti menyadari pentingnya mempertahankan perkawinan harus diselamatkan bukan demi keluarga saja tapi demi cucu yang yang akan lahir
  • Selanjutnya cerita seorang pendeta besar ingin bercerai setelah 10 tahun tidak cocok dengan istrinya. Saat berkonsultasi, saya menggunakan analogi seolah-olah saya cucunya, yang merasa malu jika kakek bercerai dari nenek. Diskusi ini membuat pendeta menyadari bahwa pernikahan lebih dari sekadar kebahagiaan—itu tentang pertumbuhan dan pewarisan nilai keluarga. Akhirnya, pendeta memutuskan untuk tidak bercerai.

Saya belajar tentang Psikologi dan Teologi Keluarga pada tahun 1996. Dalam mata kuliah 4 SKS ini, Psikologi dan Teologi Keluarga  mengajarkan bahwa keluarga adalah berkat dan mukjizat terbesar yang Tuhan berikan, lalu berkat terbesar kedua adalah penebusan Kristus. Saya terkejut dengan pernyataan bahwa keluarga adalah penebusan Kristus. Saya telah fokus pada karir dan profesi saya, sering mengabaikan keluarga dan anak-anak yang merasa kesepian, sementara istri saya yang lebih dewasa menanggung semuanya. Banyak orang mencari berkat di gereja, padahal gereja seharusnya tempat berbagi berkat yang sudah kita dapatkan di rumah dan keluarga. Jika kita tidak menemukan berkat dalam keluarga kita, berharap berkat dari gereja bisa menjadi tujuan yang salah dan mengecewakan. Tuhan memberkati kita dalam dan melalui keluarga, dan ini harus dirawat dan diperjuangkan dengan baik.

Keluarga perlu di rawat

Sekali rusak sulit diperbaiki dan kerusakannya diwariskan. Merawat pernikahan sama pentingnya dengan merawat kendaraan. Seperti mobil yang perlu diperiksa secara berkala, pernikahan juga memerlukan “check-up” untuk memastikan kesehatan hubungan.

Banyak orang tidak sadar bahwa masalah dalam pernikahan bisa semakin buruk jika tidak diperhatikan. Mereka bisa menjadi terbiasa dengan masalah hingga tidak lagi merasakannya. Banyak orang tidak melakukan pemeriksaan pernikahan secara rutin, padahal penting untuk mendeteksi masalah seperti komunikasi atau emosi yang rusak. Jika tidak dirawat, masalah bisa menjadi lebih besar dan sulit diperbaiki, seperti halnya mobil yang rusak jika tidak diperiksa.

Sebagai contoh, seperti kendaraan yang memerlukan perawatan rutin, pernikahan juga memerlukan perhatian dan pemeliharaan untuk mencegah kerusakan yang lebih serius. Ini termasuk melakukan pemeriksaan dan memperbaiki masalah sebelum mereka menjadi besar.

Merawat pernikahan sama pentingnya dengan merawat kendaraan. Seperti mobil bekas yang sulit diperbaiki setelah rusak, pernikahan yang tidak dirawat dengan baik juga sulit diperbaiki dan kerusakannya bisa mempengaruhi anak-anak.

Saya telah mendampingi berbagai pasangan, dari yang baru dua tahun hingga sepuluh tahun, dan sering kali kerusakan dalam pernikahan diwariskan kepada anak-anak. Jika komunikasi dengan pasangan sulit, komunikasikanlah dengan Tuhan yang memberi pasangan tersebut.

Merawat keluarga memerlukan usaha yang besar dan bisa mempengaruhi banyak aspek kehidupan, termasuk pekerjaan. Kadang-kadang kita butuh waktu untuk menyegarkan diri dan memulihkan keadaan, seperti yang dilakukan Paulus dan Musa di padang gurun.

Ada beberapa alasan kita memperjuangkan atau mempertahankan pernikahan kita :

  • Panggilan

Panggilan dalam pernikahan sangat penting dan unik. Menjadi suami atau istri, serta ayah atau ibu, adalah jabatan yang tidak tergantikan dan sangat istimewa. Contohnya, jika istri saya sakit, saya akan mencari pengganti khotbah, tetapi tidak akan bisa menggantikan peran saya sebagai suami. Panggilan ini lebih penting daripada karir yang bisa digantikan, seperti direktur atau presiden. Lebih baik telat menikah daripada salah menikah.

Jangan menikah karena terpaksa atau merasa kasihan. Jika seseorang mengancam untuk bunuh diri jika tidak dinikahi, segera jauhi mereka.

  • Perjanjian

Pernikahan itu adalah covenant. Jika Anda menikah di gereja ini anda tidak hanya sedang berjanji di depan jemaat tapi juga kepada Tuhan.  Ini perjanjian yang sangat kuat dan sangat hebat dan ini salah satu yang membuat Anda akan bertahan dalam perkawinan seberapa pun buruknya, seberapa pun sulitnya karena anda berjanji kepada Tuhan. Seperti tadi, kasus ibu yang pertama yang anaknya tidak setuju ayahnya kembali. Ibunya berkata enggak aku yang janji sama Tuhan aku akan bawa kembali dengan ayahmu.

  • Kesaksian

Kesaksian utama kita bukan dari khotbah atau nyanyian di gereja, tetapi dari kesehatan pernikahan kita. Pernikahan yang sehat mendukung berbagai aspek kehidupan, termasuk karir dan kreativitas. Jika pernikahan buruk, energi dan kreativitas kita akan terganggu. Saya sendiri berjuang untuk memperbaiki hubungan dengan anak saya sejak 2012, dan proses rekonsiliasi ini masih terus berlangsung.

  • Warisan

Pernikahan adalah perjanjian, kesaksian, dan warisan yang penting. Ini lebih dari sekadar uang; itu tentang nilai, karya, dan teladan yang kita tinggalkan. Setelah mengalami depresi, saya menyadari bahwa kita membawa orang yang kita cintai dan meninggalkan warisan untuk anak cucu.

Untuk merawat keluarga, prioritaskan waktu bersama mereka: 15 menit sehari, satu jam per minggu, dan aktivitas bulanan atau tahunan. Jangan biarkan kesibukan menghalangi waktu berkualitas dengan keluarga. Zaman ini, seseorang pernah berkata, “Jika iblis tidak bisa membuatmu menjadi atheis, ia akan membuatmu sibuk.” Pesan ini mengingatkan kita bahwa kesibukan yang berlebihan bisa mengalihkan perhatian kita dari hal-hal yang benar-benar penting, termasuk waktu berkualitas dengan keluarga.

Leave a Reply